Ingin ku membelah langit!
Mencabik-cabik tirai haru biru!
teriak dan berteriak di telinga semua malaikat!
melolong sepanjang nafas tersisa!
Biar semua tau!
Biar mereka rasakan!
aku bersedih!!!
aku terluka!!!
3 February 2010
setengah mati
Author: febritalks
23 January 2010
Aku Tukang Hujat
Author: febritalks
Aku jadi suka menghujat akhir-akhir ini, dan merasa sok yang paling pinter. Tulisan ku pun penuh hujatan! Huh!! ini gara-gara keseringan nonton tv nihh!!Gila!! Padahal aku biasanya anak yang baik dan pantangan menghujat apalagi berburuk sangka :)) Tapi mau gmn lagi? Hampir seluruh berita di TV yang berkaitan dengan kondisi politik akhir-akhir ini telah mengajarkanku untuk menjadi orang yang penuh prasangka dan penghujat sejati. Ah, sekali lagi, GILAAA!!!
Ada apa ya di negara kita yang sangat aku cinta ini? Aku bukannya mau sok-sok bela pemerintahan yang tengah jadi pesakitan dan terpojok. Gak ada untungnya dan merasa memilihpun akutidak! Eits, jangan coba-coba bilang aku tak nasionalis! Darah ku sangat merah dan tulangku pun sangat putih! :)) Tapi, begini saudara!! kenapa semua para orang-orang pintar di negeri kita ini kalo mengomentari kinerja pemerintah yang keluar hampir semuanya adalah hujatan, prasangka buruk? Hampir tak ada yang positif! Semua gerak-gerik pemerintah sering di sinis-in, dicurigai secara berlebihan dan sebagainya. Gerah juga tau!!! Aku yang hanya bisa mendengar dan menonton ini aja merasa kegerahan. Capek mendengarkan semua celotehan sok pinter itu!
Memang, aku juga tak memungkiri, pemerintah perlu diawasi. Supaya semua kebiajakannya tepat sasaran dan rakyat sejahtera. Tapi, please.. Mbok ya jangan super kelewatan begitu ..kasian kami rakyat yang lugu-lugu ini…lama-lama kami akan jadi rakyat yang bebal dan tak lagi punya sensor kepatutan…
Atau aku benar-benar sudah masuk dalam kelompok tukang hujat itu??? Waduuhh…!!! Tobat ya Allah..gak lagi deh…!!
19 January 2010
Kakekku Pahlawan Kampung
Author: febritalks
Memang tak tertahankan sedihnya hatiku ketika kakekku yang kusayangi menghembuskan nafas terakhirnya. Sebuah kejadian yang sangat tak terduga. Karena sebelumnya tak ada tanda-tanda bahwa kunjungannya ke rumah sakit waktu itu merupakan kunjungannya yang terakhir. Beliau kan memang sering check up! Bukan hanya waktu itu saja. Walaupun sempat di kabarkan banyak orang beliau sakit parah, tapi kan belakangan kan ketauan cuma karena sakit gigi saja. Ah, hati ku padahal sudah sempat lega mendengar kabar itu. Walau cuma dari mulut orang-orang yang lewat ditiup angin sampai ke telinga ku. Perjumpaan ku yang terakhir dengan beliau pun tak mengisyaratkan perpisahan. Padahal baru satu minggu yang lalu.
Suara orang yang membacakan ayat-ayat Al-Qur’an semakin memilukan hati ku. Suara itu mengingatkan kebiasaan kakek yang selalu melantunkan susunan huruf ayat-ayat suci itu setiap habis subuh dan maghrib. Aku paling suka biasanya duduk di samping beliau dan menyandarkan kepalaku ke bahu beliau. Wanginya baju dan bau krim rambut beliau yang khas selalu jadi hal yang tak pernah lepas dari beliau. Entah apa yang dioleskan ke rambut yang sebagian putih itu. Kemudian setelah selesai membacakan ayat-ayat suci itu beliau biasanya akan langsung menggeserkan kitab Al-Qur’an tersebut ke arahku. Dan aku biasanya akan dengan suara bergetar pun membaca ayat demi ayat firman Tuhan sekalian alam itu. Beliau pun akan dengan spontan menghentikanku jika bacaan ku kurang tepat. Ah, bersyukur sekali aku mempunyai kakek seorang guru mengaji.
Bukan guru mengaji biasa, kakekku juga sekaligus pemimpin masyarakat. Beliau sangat dihormati dikarenakan kedalaman ilmu agama beliau dan kharisma yang menurutku belum ada tandingannya di kampung ku itu. Murid beliau banyak. Pengikutnya pun banyak. Mereka semuanya pengagum kakekku. Bahkan entah benar atau tidak kakekku bahkan dikabarkan punya kesaktian yang tidak dipunyai orang kebanyakan. Beliau pun dikabarkan selalu diampingi malaikat kemana saja beliau pergi. Ah, ada-ada saja pikir ku! Manusia hidup kan emang selalu didampingi malaikat Raqib dan Atid. Tapi tak urung aku pun jadi tambah bangga sama kakekku itu.
Tapi tetap saja ada orang yang tidak senang dengan kakekku yang suka ceplas-ceplos kalo ngomong. Mereka beranggapan kakekku sering asbun! Asal bunyi! Suka menyindir dan menuduh tanpa berlandaskan bukti yang kuat dalam ceramah-ceramahnya. Bahkan pandangan-pandangan kakekku berkaitan Islam dianggap sering nyeleneh.Pernah ada kejadian di kampungku dimana sekelompok orang mendirikan jamaah sendiri yang berbeda dengan jamaah umat Islam layaknya yang mengakui junjungan Nabi Muhammad sebagai Rasul Allah yang terakhir. Hampir saja mereka dibakar dan dianiaya oleh masyarakat karena tetap berkeras menyebarkan ajaran mereka. Tapi kakekku muncul di depan masyarakat yang emosi dan mengatakan bahwa masalah keyakinan merupakan ranah hak pribadi dan tidak bisa dipaksakan! Masyarakat banyak yang gak habis pikir dengan pendapat kakekku itu. Aku pun juga bingung! Tapi begitu lah kakekku! Mungkin aku aja yang gak ngerti pikir ku. Dan mungkin begitu juga yang ada dalam pikiran murid beliau yang semakin kuat mengaji sama beliau.
Tapi yang membuat aku lebih tidak mengerti lagi adalah sehari setelah meninggalnya kakekku, semua kelompok di kampung ku membicarakan kemungkinan untuk mengangkat kakekku sebagai Pahlawan Kampung. Ada apa ini? Belum juga kering wanginya bunga di makam kakekku semua orang sudah kasak-kusuk. Mereka bilang kakekku harus dinobatkan menjadi Pahlawan Kampung sebagaimana layaknya Sanusi sang Pejuang Kampungku yang berhasil mengusir Belanda dari kampungku. Dan setelah aku amat-amati ternyata tak satupun dari mereka yang mengusung ide tersebut yang merupakan murid kakekku. Bahkan sebagian besar mereka adalah kelompok-kelompok yang selalu keras mengkritik kakekku. Atau paling tidak pemimpin-pemimpin dari kelompok tersebut yang selalu menentang kakekku. Otomatis murid kakekku juga heran. Perlahan sikap mereka pun berubah. Biasanya mereka yang selalu waspada terhadap kelompok tersebut sekarang mulai melunak. “Ah, ternyata Bapak Anu, ternyata Bapak A, gak seperti yang kita pikirkan”. “Mereka sangat respek dengan guru kita”.
Hari demi hari berlalu, dan kemudian murid-murid kakekku yang jumlahnya begitu banyak mengaji dan selalu datang ke rumah mulai menghilang dan semakin hari semakin jarang berkunjung. Tempat mengaji yang dulu selalu berkumandang ayat-ayat Al-Qur’an mulai sepi pengunjung. Mereka telah terpecah, tak lagi satu tujuan. Mereka masih mengaji tapi bukan tempat kakekku lagi, tapi sudah terpencar ke kelompok-kelompok pengajian yang selama ini menentang gaya pengajian kakekku.
Temanku, aku ibarat anak kecil yang sangat kehausan,
seperti bayi yang didera kerinduan hangatnya tatapan ibunya,
atau anak manusia yang menanti-nantikan sapaan penuh pujian,
sangat terpaksa aku harus bertanya
apakah belum waktunya puasaku kau akhiri?
sempat penuh berisi
……………………
ah, sungguh suka ria
sekarang, kering saja yang tidak!
kehilangan darah!
dan seringkali terasa sangat kosong
beruntunglah ujung jalan terlihat jelas
walau harus digambar dengan memejamkan mata
16 January 2010
………..
Author: febritalks
ketika masih galau
dari sisa-sisa emosi yang lepas
ternyata aku masih punya batasan
tak kuat menutupi semua kecewa
walau sebenarnya tak harus
karena kau bersih
tak sedikitpun salah
6 January 2010
Diam Kau!!!
Author: febritalks
Ada yang menarik dari kabar Indonesia yang bisa disaksikan melalui layar kaca hari ini. Beberapa stasiun TV menayangkannya berulang-ulang sebuah tontonan yang sangat menarik dan menggelikan. Aktor utamanya anggota Dewan yang terhormat di Ibu Kota. Dan topiknya pun masih tentang angket Century. Masih itu-itu aja! Apa yang terjadi?? hehe..sampai sekarang saya pun masih tetap merasa geli. Sebuah “perdebatan” terjadi antara seorang anggota dewan yang kebetulan pemimpin sidang dengan kompatriotnya yang berbeda partai. Perdebatan ala anak-anak yang rebutan ngomong. Pada tayangan tersebut berkali-kali sang pemimpin sidang mengatakan “Diam kau!” kepada kompatriotnya itu sambil mengacung-ngacungkan tangannya (kalo gak salah tangan kiriI). Dan yang disuruh diam pun tak mau kalah bersuara lantang menanggapi si pemimpin sidang dengan gaya yang sama. Waduuh..gila..!! Menariknya hal ini terjadi ketika proses pemeriksaan berkaitan dengan kasus Century berlangsung.
Kira-kira apa yang sebenarnya terjadi dengan anggota Dewan kita yang terhormat itu? Kehilangan etika kah? Kenapa sidang yang berisikan wakil rakyat menjadi tak kalah seru dengan rapat arisan Ibu-ibu dimana semuanya ingin menonjolkan diri masing-masing. Atau inikah yang disebut syndrom selebritis??hehe.. maksudnya semua berebut cari sensasi supaya keesokan harinya diundang TV-TV untuk diwawancarai, trus ngetop dan dikatakan vokal!
Ah, entahlah! Embuh! Tapi yang pasti makin tak selera awak liat Kau! Hahaaa….aaa….