Menerima : CUCI OTAK + SOFTENER
Filed under: Tak Berkategori on Thursday, April 28th, 2011 by febritalks | tagged Briptu Norman, Cuci otak, koran, Media cetak, NII, televisi, Teroris No Comments“Otak anda kotor berdebu dan bau?? Mari datang ke tempat ke tempat kami! dalam waktu yang sangat singkat otak anda kembali bersih dan wangi!..hahaa…
Awas NII mencuci otak anda! itu mungkin pesan-pesan yang ingin disampaikan oleh media baik cetak maupun elektronik lewat pemberitaan yang berulang-berulang dan bombastis! Atau awas, hati-hati mengikuti suatu pengajian, bisa-bisa pengajian tersebut membuat anda jadi korban NII. Atau, awas hati-hati dengan perempuan bercadar, bisa saja dia anggota NII. Atau mungkin begini : Awas, jauhi semua yang berbau islam, nanti disangka teroris!
Kenapa begitu?? Tanpa kita sadari sebenarnya telah muncul stigma di masyarakat yang berujung kepada fobia terhadap sesuatu yang dicitrakan membahayakan atau dicitrakan jelek lewat Media. Dan parahnya semuanya tergeneralisir dengan begitu simpelnya. Misal : Orang yang pake sorban dan janggut digeneralisir anggota Teroris!. Atau, orang yang pake cadar adalah anggota jaringan Islam garis keras, dsb. Semuanya akibat pemberitaan yang telah jadi teman karib kita. Dan hal ini juga yang sedang dimanfaatkan oleh Polri untuk memperbaiki citra. Melalui Briptu Norman yang diberitakan secara fenomenal, Polri sedang melakukan generalisasi citra untuk menanamkan di benak masyarakat bahwa sosok Polisi itu adalah seperti sosok Briptu Norman. Sangat gampang dan sangat mudah! Diberitakan saja secara terus menerus dan berulang-berulang dari berbagai sisi berita yang berbeda.
Media belakangan telah mempopulerkan satu frase “CUCI OTAK” atau “PENCUCIAN OTAK”. Sebuah frase yang sebenarnya selama ini tanpa kita disadari mungkin saja merupakan salah satu tujuan dari kehadiran media itu sendiri. Jika NII dituding sebagai sebuah organisasi yang tidak jelas wujudnya merekrut anggotanya dengan cara melakukan pencucian otak, Media sebenarnya telah lebih dulu melakukannya dan dilakukan secara terang-terangan. Media telah berhasil mengendalikan cara berpikir kita dan cara pandang kita terhadap suatu hal, sehingga kita kesulitan untuk punya pendapat sendiri dan memiliki pendirian yang berbeda.
Siapa sih, beberapa waktu yang lalu yang pro kepada Nurdin Halid?? Mungkin hampir semua penikmat informasi dari televisi, koran, dan radio membencinya dan menghujat kekerasan hatinya untuk maju terus dalam pemilihan Ketum PSSI. Padahal kenal secara pribadi pun tidak dengan sosok Nurdin Halid.
Pendeknya, kita adalah korban dari Pencucian Otak!